6 Istilah yang Kini Resmi Masuk KBBI Terbaru

Bahasa terus berkembang seiring perubahan zaman. Hampir setiap hari, kita menjumpai kata-kata baru—baik dari media sosial, obrolan santai, hingga ruang digital yang semakin dinamis.

Menariknya, beberapa istilah yang dulunya dianggap tidak baku kini mulai diakui secara resmi oleh lembaga bahasa.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bersifat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan budaya serta kebiasaan penuturnya.

Ketika kata-kata populer masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita bisa melihat bagaimana bahasa merekam realitas sosial secara nyata. Karena itu, memahami makna kata menjadi penting agar komunikasi semakin tepat dan efektif.

Lantas, apa saja istilah baru yang kini sudah resmi tercatat di KBBI? Berikut enam di antaranya.


Istilah Baru dalam KBBI yang Perlu Kamu Tahu

Jika diperhatikan, sebagian istilah ini sebenarnya sudah akrab digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, ada juga yang masih terasa asing bagi sebagian orang.

Perbedaan ini justru membuat pembaruan KBBI selalu menarik untuk disimak, karena menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia menyerap pengaruh dari berbagai sumber—mulai dari budaya populer, bahasa asing, hingga kebutuhan akademik.

Berikut penjelasannya:


1. Kapitil

Kata kapitil kini resmi masuk KBBI dengan makna “huruf kecil”, sebagai lawan dari huruf kapital.

Istilah ini cukup unik karena berasal dari lingkungan internal Badan Bahasa sebelum akhirnya diresmikan. Kehadirannya sempat menuai perdebatan di media sosial, karena sebagian orang menilai kata ini kurang familiar dan terasa janggal.

Meski begitu, kapitil kini menjadi bagian dari kosakata resmi yang bisa digunakan dalam konteks kebahasaan, terutama dalam pembahasan penulisan atau tipografi.


2. Mager

Mager, singkatan dari “malas gerak”, digunakan untuk menggambarkan kondisi enggan melakukan aktivitas.

Istilah ini berasal dari bahasa percakapan anak muda dan berkembang pesat melalui media sosial. Kini, penggunaannya bahkan telah meluas ke berbagai kalangan.


3. Julid

Kata julid merujuk pada sikap sinis, iri, atau gemar memberikan komentar negatif terhadap orang lain.

Istilah ini sering muncul dalam percakapan daring, terutama saat menanggapi isu viral. Masuknya julid ke KBBI memunculkan beragam respons—ada yang mengapresiasi karena memperjelas makna, namun ada pula yang menganggapnya terlalu bernuansa negatif.

Perdebatan ini justru menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap perkembangan bahasa.


4. Ambyar

Ambyar digunakan untuk menggambarkan kondisi hancur, berantakan, atau gagal total.

Popularitas kata ini meningkat berkat budaya populer, khususnya musik, dan semakin dikenal luas di media sosial. Istilah ini juga identik dengan ekspresi emosional yang kuat.

Banyak yang menilai ambyar layak masuk KBBI, terutama karena popularitasnya yang dipopulerkan oleh musisi legendaris, Didi Kempot.


5. Saltik

Saltik berasal dari frasa “salah ketik” dan sering digunakan untuk menyebut kesalahan penulisan yang tidak disengaja, terutama dalam komunikasi digital.

Istilah ini setara dengan “typo” dan sudah cukup akrab di kalangan pengguna internet.

Masuknya saltik ke KBBI menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi turut memengaruhi bahasa yang kita gunakan sehari-hari.


6. Lantatur

Berbeda dari istilah sebelumnya, lantatur mungkin masih terdengar asing. Kata ini berarti “layanan tanpa turun”, atau yang lebih dikenal dengan istilah drive-thru.

Meski belum populer dalam percakapan umum, kehadiran lantatur dalam KBBI membuka peluang penggunaan istilah yang lebih baku dalam konteks formal maupun akademik.


Penutup

Masuknya berbagai istilah baru ke dalam KBBI menegaskan bahwa bahasa Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Mulai dari kata populer seperti mager dan ambyar, hingga istilah yang masih jarang terdengar seperti lantatur, semuanya memperkaya cara kita berkomunikasi.

Memahami perubahan ini menjadi bagian penting dari literasi bahasa, agar kita dapat menggunakan kata secara tepat dan sesuai konteks.

Bagi kamu yang ingin terus mengikuti perkembangan bahasa dan literasi, Penerbit Kiera hadir dengan berbagai bacaan menarik yang relevan dan inspiratif.

Dengan membaca lebih banyak, kita tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga ikut menjaga bahasa Indonesia tetap hidup, dinamis, dan bermakna.